Waktu di angkot

2009.04.03

–Urip Hudiono

(Mohon tidak menyalahartikan judul cerita ini sebagai “sewaktu di angkot”, tapi lebih kepada “Waktu Angkot”, macam “Waktu Indonesia Barat” atau “Waktu Indonesia Timur”. Atau… Ah! Terserah lah! Bawel sekali! Perkara judul saja! Padahal tugasku sebenarnya hanya menulis, sementara Anda membaca tulisanku itu. Syukur-syukur jika Anda suka, ya sudah jika Anda anggap sampah…)

***

Baiklah. Renungan ini sebetulnya terlintas begitu saja sewaktu aku sedang naik angkot di suatu siang nan terik. Angkot Caringin-Sadang Serang. Angkot yang kala itu terisi penuh, sehingga kami semua para penumpang terpaksa duduk berhimpit-himpitan. Teringat jelas muka seorang bocah yang sampai menempel di lengan kiriku, sementara mendesak dari sayap kanan, seorang pria berambut gondrong.

Seorang pria yang entah kenapa, terus-menerus kucurigai sebagai seorang pencopet. Barangkali karena rambut gondrongnya itu. Atau kaca mata hitamnya yang jelas-jelas merek murahan. Atau kumis tipisnya yang mengkilap-berminyak sok seksi. Atau penampilannya saja –dengan kemeja dekilnya dan jeans belel-nya– yang memang mengundang tudingan orang sebagai pencopet.

Tapi… Ah! Tak sepantasnya aku menilai orang dari penampilannya! Tak sepantasnya aku berprasangka buruk pada seseorang! Barangkali saja dia itu seorang bintang film yang sedang menyamar. Tapi bagaimanapun juga, saraf-saraf peraba di pantatku, yang berhubungan langsung dengan kantong belakang celanaku tempat ‘ku menaruh dompet, segera kupasang dalam keadaan siaga satu…

***

Sebuah senggolan lembut dari arah kiri lalu mengalihkan perhatianku. Oh! Si bocah, rupanya!

Kutengok ke arah dia; pandangan mata kami pun bertemu.

Pandangan mata yang seakan memohon-memelas: “Sempit sekali! Aku kesempitan! Tak bisakah kau bergeser barang sedikit pun?”

…dan hanya bisa kubalas dengan pandangan serupa:

“Tak bisa. Apa daya? Aku pun sama terhimpitnya dengan kau. Tak bisa bergerak-beranjak ke mana pun. Mengapa tidak kau minta ibumu untuk memangkumu saja?”

Tetapi si ibu sedang asyik memakani sekantong duku Palembang. Membuang kulit-kulitnya dan melepehi biji-bijinya begitu saja ke lantai angkot, seakan tak peduli bahwa sampahnya itu barangkali akan mengenai kaki penumpang yang lain. Seakan tak peduli bahwa hal itu sungguh menjijikkan dan bikin kotor semua…

Maka aku pun kembali berbincang-bermain-mata dengan si bocah… meski tak lama, karena aku kemudian bosan dengan permainan mata itu. Sebab bagaimanapun juga, si bocah bukanlah seorang wanita cantik. Mata lugu-lebar si Adik, takkan pernah bisa semenarik mata indah-berbinar si Putri.

Maka kuakhiri saja semua itu –Maafkan aku, Nak!– dengan menenggelamkan kembali muka si bocah nan apes itu ke balik ketiak kiriku…

***

Pandanganku lalu beralih ke para penumpang di depanku.

Enam orang jumlahnya –tiga perempuan, tiga laki-laki– berjejer di bangku kanan angkot. Dan sialnya, dari ketiga perempuan itu, tak ada yang pantas, menurutku, untuk kujadikan sekedar hiburan selama perjalanan. Lukisan indah yang enak ‘tuk dipandang. Bidadari Angkot.

Pun ketiga lelaki itu, masih kalah jauh di bawahku. Bukannya ‘ku hendak bersombong, tapi memang begitu kenyataannya. Akulah yang paling tampan dan imut se-angkot itu! Raja Sedunia saat itu! Saat itu, saat itu…

***

Ah, ya! Jam berapa saat itu? Meski aku sedang tak terburu-buru dikejar waktu, aku ingin tahu saja jam berapa saat itu…

Beruntunglah bahwa kedua lelaki yang duduk berjejer tepat di hadapanku, memakai jam tangan. Jam tangan besar-besar yang tampak mewah bak Rolex, tapi sebetulnya sama murahannya dengan kaca mata si gondrong di sebelahku…

(Astaga! Si gondrong! Dompetku! Aku langsung teringat. Kugeol sedikit pantatku untuk memastikan bahwa dompetku masih bersemayam dengan aman dalam kantong celanaku. Tak lupa kuhadiahi pula tatapan sinis pada si gondrong itu, untuk sekedar menunjukkan padanya bahwa aku takkan lengah barang sedikit pun!)

***

Kembali pada jam-jam tangan tadi… maka di sinilah renunganku bermula…

(Ataukah ini kilah-tipuku saja? Agar Anda tak merasa terlalu rugi dan kecewa telah membuang waktu Anda untuk membaca tulisanku ini. Agar Anda, paling tidak, merasa telah memperoleh sesuatu yang bermakna dari rangkaian kata-kata yang sebetulnya tak bermakna ini. Namun, apakah “makna” itu?)

Jadi, demikianlah. Aku tak sengaja memperhatikan bahwa meski kedua jam tangan mereka itu sama-sama menunjuk sekitar pukul satu siang, namun hitungan menit dan detiknya saling berbeda. Saling berbeda!

Jam yang satu lewat 15 menit dan 8 detik, sementara yang satunya lagi lewat 21 menit dan 37 detik. Mengapa bisa begitu? Mengapa tidak sama?

Aku lalu teringat pada jam weker di kamarku sendiri. Aku teringat bahwa aku selalu mengaturnya 7 menit lebih cepat dari “waktu yang sebenarnya”. Namun kini, aku tak tahu “waktu yang sebenarnya”. Aku tak tahu jam tangan mana yang menunjukkan “waktu yang sebenarnya”, atau aturan aneh macam apa yang mungkin diterapkan pemilik kedua jam tangan itu pada jam tangannya masing-masing (seperti yang kulakukan terhadap jam weker-ku).

Aku bahkan tak punya “waktu weker”-ku (yang dapat kupercaya), untuk merunut “waktu yang sebenarnya”!

Alamak! Aku tiba-tiba tersentak sadar bahwa aku telah kehilangan kesadaran akan waktu! Ditinggalkan-ditelantarkan olehnya. Terhuyung-huyung tanpa pegangan yang pasti… (Bebas?)

***

Manakah di antara dua jam tangan itu yang akan kujadikan pegangan-acuan? Jam tangan logam-emas milik si pria berlengan gemuk-bergelambir, atau jam tangan perak-keperekan milik si pria berlengan hitam-berbulu?

Dan soal “waktu yang sebenarnya” lagi? Bagaimana aku tahu bahwa si pria berlengan gemuk bergelambir tak sengaja memajukan jam tangannya barang 2-3 menit, atau si pria berlengan hitam berbulu sudah lama lupa mengganti batu baterai jam tangannya, sehingga jam tangannya itu telah mengalami keterlambatan sekitar 4-5 menit? Atau sebaliknya? Atau begini? Atau begitu?

Ah! Seandainya tadi kubawa saja jam weker-ku!

Atau… Ah! Bodohnya diriku! Gampang saja! Kutanya saja pada mereka! Dan kutanya pula apakah mereka juga punya aturan kebiasaan aneh untuk memajukan atau memundurkan jam tangan mereka, atau perkara-perkara lain yang mungkin menyebabkan jam tangan mereka itu agak melenceng dari “waktu yang sebenarnya”…

Dan di saat itu pulalah, aku tiba-tiba tersentak sadar lagi…

***

Jika tadi adalah perkara “lepasnya diriku dari Sang Waktu”, maka kini adalah soal “keberagaman Waktu yang sebenarnya Satu”.

Sengaja atau tidak, kita semua memiliki “waktu masing-masing”. “Sengaja” di sini bisa berarti aturan-kebiasaan aneh memajukan atau memundurkan jam kita; “tak sengaja” mencakup tak bisanya kita menjamin bahwa peralatan penunjuk waktu kita sempurna dan sama adanya. Sama persiskah kualitas mekanik jam yang satu dengan jam yang lain, sehingga sama persis pula kuantitas waktu yang dihasilkan keduanya?

Belum tentu, bukan? Maka dari itulah, kuulangi: kita semua memiliki “waktu masing-masing”.

Waktu “sekarang” bisa dibilang “waktu di angkot”. Itu pun masih terserah, mau ikut “waktu di angkot versi si pria berlengan gemuk-bergelambir”, atau mau ikut “waktu di angkot versi si pria berlengan hitam-berbulu”. Dan nanti setelah aku sampai di tujuan, aku akan beralih pada “waktu setempat” di sana.

Mengasyikkan, bukan? Membingungkan, tapi dari sisi tertentu, begitu asyik dan menggairahkan.

Dan memang lebih mantap jika kita memiliki “waktu kita sendiri” (misalnya jam weker-ku, untukku pribadi), sehingga kita tak perlu tergantung pada “waktu orang lain”.

Namun hal yang terakhir juga tak ada salahnya, karena kita sekarang tahu… bahwa bagaimanapun beragamnya “waktu masing-masing”, kita sadar bahwa akan selalu ada “perasaan waktu yang sama”. Mirip. Apakah itu “sekitar jam satu”, atau “siang”, atau “hari ini”, atau “bulan ini”, atau “tahun ini”, dsb, dst.

Ada “Satu Waktu Kekal-Abadi”, yang melingkupi kita semua, dan detakannya ‘kan selalu memandu kita. Ada Satu Hal Tertentu, yang boleh kita rasakan sebagai Inti dari Segala Sesuatu…

(Dan keringat di kepala, yang sedari tadi mengucur –akibat suasana panas-sesak angkot, maupun karena kerasnya diri memeras otak memikirkan persoalan pelik mengenai waktu tadi– pun berhenti. Rasa Senang. Tenang.)

***

Dan omong-omong soal “sampai di tujuan”… sampai di mana ini?

Waduh! Tempat tujuanku sudah lewat! Gara-gara lamunan-renunganku itu!

Betapa berbahayanya melamun-merenung di dalam angkot itu (bisa menyebabkan tujuan Anda terlewat), seperti betapa berbahayanya pula sebuah ide-gagasan (bisa mengguncang dan merombak dunia)…

Maka aku pun langsung berteriak lantang: “Kiri, kiri!”

…yang langsung disambut sahutan si ibu-ibu di pojokan depan dekat sopir: “Eh, kiri, eh, kiri!”

Ah! Latah pula si ibu-ibu satu itu!

Kelatahan yang membawa celaka! Karena sedemikian terkejutnya, si sopir angkot langsung saja menginjak pedal rem, sambil membanting setir ke arah kiri. Lengkingan rem dan decitan ban terdengar keras. Juga teriakan panik-kompak seisi angkot.

Sementara di belakang angkot sendiri, mobil-motor tampak berseliweran dan berhenti mendadak pula untuk menghindari tubrukan. Tampak seorang pengendara motor yang kurang terampil, melaju kencang masuk ke semak-semak di pinggir jalan…

Beruntunglah angkot akhirnya mendarat dengan selamat. Hanya tergetar keras mengenai pinggiran trotoar. Tampak si sopir angkot langsung mengomeli si ibu-ibu yang tadi latah dan bikin kaget, serta nyaris mencelakakan kita semua. Untung bukan aku yang disalahkan. Dan mengapa si sopir angkot tak menyalahkan dirinya sendiri pula, yang mudah kaget?

***

Aku pun segera berusaha turun. Tapi apa daya: semua penumpang yang lain ternyata juga ikut-ikutan hendak turun. Barangkali karena trauma; tadi sempat keterlaluan bercanda-bercumbu dengan Maut.

Maka berebutanlah kami semua hendak keluar. Cari selamat sendiri. Berjubel-berdesel menyerbu pintu keluar.

Dan seakan tak tahu –atau tak mau tahu– pada apa yang telah menimpa kami, serombongan pengamen pun langsung mendatangi angkot kami. Permisi dan pasang kuda-kuda sebentar, lalu langsung berkoar-koar:

“Jika cinta ditolak, apa mau dikata? Asal jangan kau anggap, itu s’bagai kiamat…!”

Oh! Lagu paling norak yang pernah kudengar! Dan suara sumbangnya itu! Dan kenyataan bahwa kami semua sebetulnya sudah hendak meledak-keluar saja dari angkot itu! Tak sadarkah mereka? Malah menghalang-halangi pintu keluar pula!

***

Ketika kami akhirnya berhasil mendesak-mendepak serombongan pengamen tak bermutu itu dan berhamburan keluar, aku tiba-tiba teringat pada si gondrong dan dompetku.

Aku langsung celingukan mencari dia. Tak ada! Sudah lenyap-menghilang entah ke mana! Hanya beberapa penumpang yang berdiri-diri di trotoar, beberapa yang langsung menggeletak lemas di pinggir jalan, dan si sopir angkot yang berteriak-teriak meminta bayaran…

Aku lalu merogoh-rogoh kantong belakang celanaku… dan langsung berteriak kesal sekeras-kerasnya:

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Terkutuklah si setan gondrong itu! Pasti dia! Siapa lagi? Semoga rambutnya langsung berketombe dan rontok semua! Atau terbakar sekalian dalam api neraka!

Sebab aku bukannya kesal pada hilangnya uangku yang tak seberapa jumlahnya… tapi pada hilangnya satu-satunya foto kekasihku yang kumiliki, yang selama ini selalu kusimpan di dalam dompet buluk-ku itu…

–terima kasih kepada para penumpang angkot ybs (hatur nuhun sadayana!)

–Bandung, Mei 2001