Dan mangga itu pun jatuh di atas tai anjing
2009.04.03
–Urip Hudiono
“Ah, sialan! Harga bensin jadi juga naik,” gumam Tommy. Tetapi ia sebenarnya sudah terlalu lelah untuk memikirkan hal itu, karena baru saja pulang berfoya-foya semalam suntuk di diskotek. Dan ia juga tak begitu peduli, karena ia sudah punya rencana untuk mengakalinya…
***
Tommy baru bangun ketika matahari sudah tinggi di langit. Kuliah, tentu saja bolos. Toh ia sudah punya “teman” yang dititipinya untuk meng-absen dirinya, dan memberitahu kalau ada ujian atau tugas. Atau bahkan, mengerjakan sekalian semua ujian dan tugasnya itu. (Oleh karena itulah, saya tadi menggunakan kata “teman”, dalam tanda kutip: Tommy sepertinya memang hanya memperalat anak malang itu, dengan berbagai ancaman-kekerasan-premanisme-nya.)
Tommy lalu mandi (air hangat) dan sarapan (ala Barat). Oh, nikmatnya bila segala sesuatu tersedia! Berkelimpahan pula. Tommy bahkan akan mengamuk pada Bi Inah, pembantunya, jika ada sesuatu yang kurang.
Ia lalu memanggil “Sersan” Surip, sopirnya, dan menyuruhnya untuk memanaskan mobilnya. Tommy memang selalu memanggil sopirnya dengan sebutan (ejekan?) “Sersan”, bahkan kerap mengerjainya dan selalu memarahinya pula untuk kesalahan kecil apapun, si bapak tua yang memang pensiunan militer itu.
Adapun mobil si Tommy, sudah pasti keluaran teranyar, atau paling tidak, selalu diusahakannya mengikuti trend modifikasi terbaru. Mesin ini, velg itu, knalpot anu (dan lain sebagainya, yang terus-terang, tidak pernah saya mengerti, untuk apa semuanya itu). Yang jelas, Tommy akan merasa bangga dan puas jika mobilnya adalah yang paling “hebat” di antara teman-teman sepergaulannya.
Dan ayah-ibunya? Tuan dan Nyonya Raden Mas-Ajeng Tirtodikromo? Sudah pasti sibuk dengan urusannya masing-masing, hari begini.
Si Tuan sibuk memenuhi ambisinya pada harta dan kedudukan yang sepertinya takkan pernah terpuaskan sampai kapan pun juga; si Nyonya sibuk arisan, dan bergosip tentang para selebritis, dan bermimpi jadi seorang selebritis sendiri. Demikianlah anggapan dan bayangan mereka akan “kesuksesan hidup”.
***
Kembali ke Tommy, usai sarapan (atau entahlah, “makan siang”, barangkali), ia lalu teringat bahwa harga bensin baru saja naik semalam. Ia pun cepat-cepat membentak Pak Surip (Kita, tentu saja, akan memanggilnya dengan “Pak”, bukan “Sersan”):
“Hoi, Sersan Surip! Sudah cukup memanaskan mobilnya! Harga bensin sudah mahal sekarang, tau!”
Maka Pak Surip yang sedang memeriksa-meriksa mesin mobil pun, tergopoh-gopoh mematikannya.
“Dan jangan sok tau mengutak-atik mesin mobilku! Tau apa sih kamu?”
Kalau bukan karena Pak Surip begitu setia-berbakti pada Tuan dan Nyonya, maka ia barangkali sudah pulang dan mengambil revolver tua-nya peninggalan revolusi dulu, lalu menembakkannya ke kepala si Tommy.
Tapi entahlah, karena ia tahu bahwa Tommy pun diam-diam mengkoleksi berbagai pistol selundupan. Ia, si prajurit tua itu, jelas-jelas bukan tandingannya.
***
Tommy kemudian berpikir tentang rencananya. Menghadapi kenaikan harga bensin semalam, rencana yang sudah lama dipersiapkannya itu –tak bisa tidak– harus dilaksanakan. Sebab ia tak tahu pasti apakah ayahnya akan menaikkan jatah uang bensin untuk dirinya; meski sebagai anak semata wayang kesayangan orang tuanya, ia sebenarnya tinggal meminta apapun yang diinginkannya.
Tetapi bukan itu yang jadi pikiran utamanya. Masalahnya, ia akhir-akhir ini memang harus mengatur ulang keuangannya. Ia diam-diam butuh tambahan uang yang lumayan banyak untuk memenuhi berbagai kebutuhan hobinya yang aneh-aneh. Selain koleksi pistol tadi, dan berbagai obat-obatan terlarang yang sudah ditagihinya, ia juga harus menjaga citra dirinya sebagai seorang playboy flamboyan.
Teman-teman sepergaulan Tommy memang merubunginya bak semut selama ini, karena Tommy terkenal banyak duit, dan royal membagi-bagikannya. Menghambur-hamburkannya seperti takkan pernah habis. Seperti tak ada peruntukan yang lebih bermanfaat.
Adapun keluarga Tirtodikromo, juga bukan sembarang keluarga. Konon trah langsung para ningrat kerajaan jaman baheula yang dulu pernah berjaya di negeri ini. Namun adalah para ningrat yang sama, yang dulu telah melacurkan negeri ini kepada para penjajah kulit putih demi kekuasaan keagungan semu-macan-kandang belaka.
Ah, ya! Tommy barangkali juga tak pernah mendengar pepatah bahwa cinta dan sahabat takkan pernah bisa dibeli. Tetapi, jika ia bisa menjamin citra, pamor, dan kekayaannya untuk jangka waktu selama mungkin, maka apa yang musti dikhawatirkannya? “Teman-teman” akan selalu ada, termasuk para gadis materialistis-pesolek-berbedak, yang tak lain adalah para pelacur tubuh dan kecantikan. Rela dikencani dan entah diapakan saja oleh Tommy, demi kemewahan sesaat.
Dan kita malah melaknat para pelacur jalanan, yang banyak di antara mereka, memang terpaksa melakukan pekerjaannya itu demi sesuap nasi. Melaknat dan menista, seolah diri kita saja yang paling suci dan tak berdosa, tanpa pernah benar-benar peduli pada mereka. (Tetapi tak adakah di antara “wanita-wanita Tommy” yang juga terpaksa melakukan perbuatan mereka? Ya, barangkali ada. Maka entahlah. Saya pun barangkali telah semena-mena menista mereka.)
***
Maka demikianlah, Tommy harus mempertahankan citra dan gengsinya, seberapa pun harganya! “Harga” dan “uang” memang kata-kata yang pantas digunakan di sini, karena citra dan gengsi Tommy memang hanya ditopang oleh dua hal fana tsb. (Jika dasar sesuatu adalah fana, maka tidakkah berarti ia fana pula?)
Bagaimanapun, beginilah rencana si Tommy:
Pertama, ia akan membujuk ayah-ibunya untuk memanfaatkan berbagai koneksi yang mereka miliki, untuk mempecundangi sistem kenaikan harga bensin kali ini. Tommy memang mendengar selentingan bahwa akan tetap ada beberapa jatah tertentu, dimana harga bensin tidak dinaikkan.
Tanpa peduli untuk siapa sebenarnya jatah itu, Tommy akan menyarankan kepada orang tuanya agar keluarga mereka mendapat jatah tsb. Sama tidak pedulinya ketika keluarga mereka dulu, entah dari mana, mendapat jatah kupon bensin yang sebenarnya untuk para pegawai negeri.
Adapun rencana kedua, harus meminta “bantuan” Bi Inah. Dan rencana yang satu ini tak khusus untuk uang bensin sebenarnya, karena rejeki nomplok yang sudah terbayang-bayang dalam benak Tommy itu, bisa dipakai untuk apa saja.
Barangkali untuk biaya menggencarkan pendekatannya pada Lisa, seorang gadis manis yang selama ini menjadi incarannya, namun tak pernah bersambut. (Barangkali karena Lisa sudah tahu tabiat Tommy yang sebenarnya!)
“Sialan tuh cewek! Belum pernah ada cewek yang menolakku,” gumam Tommy sambil memeriksa pesan pesan yang masuk di telepon genggam-nya. (Telepon genggam yang konon dibelinya hanya karena modelnya adalah yang paling baru, dan yang paling penting, paling mahal.)
Lagi-lagi, ya! Barangkali Tommy memang benar-benar tak tahu bahwa masih ada beberapa hal (seperti yang tadi telah disebutkan), yang takkan pernah takluk oleh uang dan dunia…
***
“Bi Inah!” panggil Tommy.
Bi Inah yang sedang sibuk membereskan dapur, tak mendengar panggilan Tommy.
“Bi Inah!!!” ulang Tommy, lebih keras.
Bi Inah kali ini langsung tercekat kaget, dan tergopoh-gopoh menemui Tommy.
“Dalem, ‘Den. Ada apa, ‘Den?” jawab Bi Inah, sambil langsung menggelesot di lantai. (Mengapa harus menggelesot di lantai?)
“Sudah selesai semua pekerjaanmu di dapur?” tanya Tommy.
“Sampun, ‘Den,” jawab Bi Inah. Ia jelas-jelas berbohong, karena masih ada setumpuk pekerjaan yang harus dikerjakannya. Namun untuk nekat menomorduakan panggilan Den Tommy, sama saja cari perkara.
“Sampun, sampun! Shampoo, ‘kali!” ledek Tommy sambil tertawa. Menertawakan, baik keluguan Bi Inah, maupun celetukannya sendiri (yang sebenarnya tak ada lucu-lucunya).
Diam sejenak. Bi Inah tertunduk, menunggu Tommy berbicara mengeluarkan perintah. (Mengapa harus menunduk? Dan mengapa harus menunggu perintah orang lain?)
“Bi Inah bisa baca-tulis, ‘kan?” tanya Tommy kemudian.
Meski ragu-ragu, Bi Inah kemudian menjawab: “Sedikit-sedikit bisa, ‘Den…”
“Ya sudah. Sedikit-sedikit pun sudah cukup. Pokoknya Bi Inah bisa baca-tulis ini, ‘kan?” tanya Tommy lagi, kali ini sambil menyodorkan beberapa helai kertas yang memang sudah dipersiapkannya.
“Waduh… Nggak tau ya, ‘Den… Banyak sekali, ‘Den…”
“Sebenarnya nggak banyak-banyak amat dan susah-susah amat sih, Bi. Tapi kalau begitu, saya bantu saja ya, Bi?” suara Tommy tiba-tiba melembut dengan manisnya. Sebuah kemanisan yang entah kenapa, mengingatkan kita pada manisnya aroma yang dikeluarkan tanaman penangkap lalat untuk menjerat mangsanya.
“Iya, ‘Den… Bibi sih harus dibantu kalau begini, ‘Den…” jawab Bi Inah sambil membolak-balik kertas-kertas itu; berusaha membaca dan memahaminya.
***
“Tadaaa!!! Supri sudah pulang, Bu!”
Sebuah teriakan sumbang tiba-tiba memecah keheningan di ruang makan itu. Ternyata Supri, anaknya Bi Inah.
“Hush! Jangan bikin ribut kamu! Ibu sedang disuruh Den Tommy nih!” bentak Bi Inah pada Supri, tanpa beranjak dari tempatnya menggelesot.
Tommy hanya tersenyum. Senyum munafik-basa-basi tapinya, karena dari matanya, kita sebenarnya bisa melihat tatapannya yang begitu tajam dan sinis pada Supri. Dasar anak kampung ingusan, benaknya dalam hati.
“Kan Supri bisa bantu, Bu! Disuruh apa sih, Bu?” sahut Supri sambil ikut menggelesot di samping ibunya.
“Selamat siang, Den Tommy,” tak lupa pula ia menyapa sopan tuan mudanya, seperti yang selama ini telah diajarkan kepadanya.
“Ah, kamu anak kecil tahu apa sih? Ini Ibu disuruh baca-tulis ini nih,” jawab Bi Inah sambil melambai-lambaikan segenggam kertas yang tadi diserahkan Tommy kepadanya, ke wajah Supri.
“Supri juga udah bisa kok, baca-tulis! Be-a-sis-swa…” sosor Supri seketika melihat kata-kata pada kertas-kertas itu.
“Be-a-sis-swa apa sih, Bu?” tanya Supri kemudian.
“Tanya ‘Den Tommy tuh! Apa ya, ‘Den?” sahut Bi Inah melemparkan pertanyaan Supri tadi pada Tommy.
Tommy yang tak menduga akan seperti ini, cepat-cepat saja menjawab sekenanya. Ia sebenarnya sudah kesal dan tak sabaran: ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya dengan Bi Inah; ingin cepat-cepat menuntaskan rencananya. Lalu pergi ke mal, karena ia sudah ada janji. Dan barangkali pulangnya nanti mampir ke tempat Lisa. Tetapi gara-gara si Supri ini… Ingin rasanya menyepak keras-keras si setan kecil itu!
***
“Tuh! Udah ngerti sekarang? Beasiswa tuh buat bayar sekolahan. Ya udah sana! Kamu ganti baju sana, trus makan!”
“Iya, Bu… Tapi Supri mau lihat mangga dulu ah!” Supri melendot manja pada ibunya, kemudian melesat secepat curut ke halaman belakang.
“Mangga apa, Bi?” tanya Tommy.
“Itu lho, ‘Den… Pohon mangga di halaman belakang kan lagi berbuah. Ada satu mangga yang sepertinya sudah besar dan masak…”
“Oh…” gumam Tommy tak peduli.
Ia lalu mengingatkan kembali Bi Inah pada kertas-kertas tadi…
***
“Jadi ini untuk mbayarin sekolahnya Supri ya, ‘Den?” tanya Bi Inah.
“Ya, ya, begitulah…” jawab Tommy seenaknya.
Bohong, karena ia tahu sendiri bahwa itu bukan lembaran beasiswa untuk Supri. Tak ada hubungannya sama sekali bahkan. Ia tahu bahwa uang sekolah Supri yang tak seberapa di sebuah SD negeri itu, sudah ada jatahnya sendiri dari ayahnya.
Jadi untuk siapa beasiswa itu? Ya, kita barangkali sudah bisa menebak…
Tommy memang telah mengambil formulir permohonan beasiswa yang disediakan oleh kampusnya. Tak hanya satu, tetapi beberapa buah sekaligus. Kampusnya memang sebuah kampus yang bisa dibilang bergengsi, sehingga banyak pihak yang tertarik untuk membantu pendanaannya, termasuk berupa berbagai beasiswa untuk para mahasiswanya. Dan menyadari serta memanfaatkan lemahnya pengawasan dalam pengelolaan dana-dana beasiswa itu, Tommy pun seperti mendapat rejeki nomplok.
Lagi-lagi, persetan! …kesempatan seperti ini tak boleh disiak-siakan!
Adapun sebagai dalih pembenaran, Tommy merasa bahwa nilai-nilainya yang cukup bagus selama ini, pantas sebagai pertimbangan untuk memperoleh beasiswa. Ia barangkali sudah lupa, bahwa nilai-nilainya itu sebagian besar (kalau tak mau dibilang semua), bukan jerih payahnya sendiri. Ia hanya mau tahu, bahwa catatan akademik-nya bertebaran nilai A atau B, tanpa peduli bagaimana caranya.
Sebuah pola pikir yang… Ah, entahlah! Tapi barangkali: sekarang ini, sampul sebuah buku sepertinya jauh lebih penting daripada isinya…
***
Satu-satunya halangan bagi Tommy untuk memperoleh beasiswa itu adalah syarat “untuk kalangan tak mampu”. (Kalaupun Tommy bisa dibilang “tak mampu”, maka hal itu adalah Tommy “tak mampu mencari foya-foya yang lebih dahsyat lagi untuk menghambur-hamburkan uangnya”.)
Maka di sinilah –seperti sudah bisa kita duga juga– peranan Bi Inah.
Tommy meminta Bi Inah untuk mengisi formulir-formulir permohonan beasiswa itu dengan data-data dirinya, dan nanti diaku sebagai data-data orang tuanya! Ah! Cerdik sekali si Tommy! Jenius! Cerdas luar biasa! Ganteng pula! Maka tak heran begitu banyak cewek yang kepincut pada dirinya… (Ya, ya, silakan tertawa semuanya. Terlebih lagi kau, Lisa…)
***
“Waduh… Terima kasih banyak lho, ‘Den. Bibi memang mengharapkan si Supri bisa terus sekolah dan ‘jadi orang’. Nggak seperti Bibi ini…” ujar Bi Inah usai menuliskan riwayat hidupnya pada formulir yang terakhir.
“Bilang terima kasih juga sama Tuan, sama Nyonya, ya ‘Den…” lanjut Bi Inah lagi, masih dalam segala keluguan dan ketidaktahuannya.
“Ya, ya…” gumam Tommy, masih dalam segala ketidakpeduliannya dan ketiadaan rasa bersalah.
Ia kini sibuk mematut-matut formulir-formulir yang telah terisi semua itu, dan mengira-ngira apa yang harus diubah sedemikian rupa sehingga data-data itu cocok dengan dirinya. Dan nanti lolos seleksi; dan ia pun memperoleh uang beasiswa untuk tambahan uang sakunya!
Maka Tommy pun tersenyum puas, seakan mengiringi senyuman yang sedang mengembang pula di wajah tua Bi Inah. (Saya sebut “seakan” di sini, karena kita yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, tahu pula bahwa kedua senyuman itu memang sejatinya tak pernah beriringan. Justru begitu jauh; berbeda dunia.)
***
Tommy kemudian beranjak begitu saja, berdandan sebentar di kamarnya, lalu berangkat entah ke mana.
Barangkali sudah telat untuk berbagai jadwal-acara-janji-nya hari ini yang begitu padat. Tinggal deru suara knalpot mobil-nya (yang lebih mirip suara mesin potong rumput, menurutku) yang terdengar. Itu pun lalu menghilang pula tak lama kemudian.
Dan baguslah, karena kita kini bisa beralih pada Supri dan Bi Inah.
***
Bi Inah, tentu saja kembali ke dapur dan segera menyelesaikan setumpuk pekerjaannya yang tertunda. Membenahi meja makan, mengangkat jemuran, menyetrika, dan lain sebagainya.
Supri, sedang asyik lesehan menikmati makan siang-nya di lantai dapur. Sebuah buku cerita digeletakkannya di hadapannya, supaya ia bisa membaca sambil makan. Membaca keras-keras. Tapi hal itu tak lama, karena Bi Inah kemudian mencubit pahanya:
“Makan yang benar! Jangan sambil baca atau ngomong! Itu lihat tuh nasinya ke mana-mana!”
Supri hanya bisa meringis kesakitan.
***
Pak Surip lalu muncul mengembalikan piring makan siang-nya.
“Terima kasih ya, Bi. Enak sekali lho sayur lodeh-nya…” kata Pak Surip.
Bi Inah tersenyum senang mendengar pujian Pak Surip. Keduanya lalu terdiam.
Ah! Ada sesuatu yang begitu terasa di sini! Namun untuk menceritakannya kali ini, di sini, barangkali tak mungkin. Tak sempat. Biar untuk cerita lain saja.
Lagipula, Pak Surip pun keburu memecah kebisuan itu dengan sedikit berdehem lalu berkata, “Ya sudah. Saya mau menjemput Nyonya dulu…”
***
Usai makan, Supri membandel tak mau tidur siang. Ia mau ke halaman lagi; melihat-lihat buah mangga-nya. Tapi sebelumnya, ia tak lupa memberi makan ikan di kolam.
Ya, itulah tugas si kecil Supri: membantu ibunya memberi makan ikan. Dan kalau ia sudah lebih besar nanti, ia akan diserahi pula tugas memberi makan burung-burung perkutut milik Tuan.
Oh! Betapa bangganya hati Supri jika bisa melakukan hal itu! Cita-cita dan impian hidupnya!
Supri sempat terlamun lama memandangi kandang-kandang burung perkutut di atas kepalanya, yang tergantung-berjejer rapi di teras, sebelum kemudian sadar, dan langsung melesat lagi ke halaman…
***
“Wah, Bu! Si Bleki sepertinya masuk lagi semalam!” Supri tiba-tiba melapor dari halaman.
Bleki adalah julukan bagi seekor anjing liar yang sering berkeliaran di seputaran rumah Tommy.
“Itu ada tai-nya lagi, Bu!” lanjut Supri.
“Waduh! Mana?” sahut Bi Inah dari dapur.
Ia sedang sibuk mencuci piring, tapi laporan Supri ditanggapinya dengan tak kalah serius. Masalahnya, Tuan dan Nyonya sudah mewanti-wanti dirinya agar Bleki tak masuk-masuk lagi ke halaman rumah mereka. Aroma onggokan tai yang sering ditinggalkan si kurang ajar Bleki itu, kerap mengganggu kenikmatan acara minum teh sore Tuan dan Nyonya di halaman belakang itu.
“Waduh, Bu!” sahut Supri lagi.
“Ada apa lagi, ‘Nak?” tanya Bi Inah.
Ia kini sudah selesai dengan setumpuk piring-gelas cuciannya, dan hendak menyapu halaman. Menyapu tai si Bleki itu.
“Mangga yang kita tunggu-tunggu itu, Bu, ternyata sudah busuk! Sepertinya dimakan codot!” jawab Supri.
“Ya sudahlah…” gumam Bi Inah lemah, sambil mengambil serokan dan sapu lidi.
Karena orang rumah tak ada yang suka buah-buahan hasil pohon di halaman sendiri (mereka lebih suka beli apel impor di supermarket), maka biasanya buah-buahan itu menjadi milik Bi Inah dan Supri.
“Adauw!!!” jerit Supri lagi, tak lama kemudian.
“Ya ampun! Supri! Ada apa, ‘Nak?” Bi Inah bergegas menuju halaman. Naluri seorang ibu mendengar jerit-tangis anaknya.
“Benar saja! Itu barusan mangga-nya jatuh tepat di atas tai-nya si Bleki! Jijik! Muncrat ke mana-mana!” jawab Supri, sambil membersihkan serpihan mangga busuk campur tai anjing yang melekat di kakinya. Ia sedari tadi memang berdiri di dekat situ.
“Ya sudahlah, ‘Nak. Biar Ibu sapu sajalah…” kata Bi Inah. Disapu-seroknya semua kotoran itu, dan dibuangnya di tumpukan sampah.
“Biar dimakan tikus saja. Itu pun kalau mereka mau,” gumam Bi Inah, merujuk pada tikus-tikus got yang tak kalah kurang ajarnya. Tak puas dengan tempat sampah, banyak dari mereka yang sekarang berani masuk dan menggerogoti segala sesuatu di dapur.
“Kok kita sial sekali ya, Bu? Mangga itu kan harusnya untuk kita,” ujar Supri sambil sibuk berlari-lari, berusaha menangkap capung di halaman.
“Entahlah, Supri, entahlah…” jawab Bi Inah lirih. Dan entah kenapa pula, ia merasa begitu letih hari ini…
–Bandung, Agustus 2001